Pembukaan Pesta Kesenian XL Tahun 2018

Minggu, 24 Juni 2018

 

Ekspresi jiwa, mata air penghidupan, juga cermin peradaban krama bali. Begitulah dikenalnya kesenian di Bali. Dan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengajak semua orang berpesta (lagi). Sabtu malam (23/6).

            Malam itu amat dingin ketika acara pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 digelar. Degan mengusung tema : Teja Dharmaning Khauripan : Api Spirit penciptaan. Walau demikian, dalam hitungan jam kalangan Ardha Candra, Taman Budaya-Art Center ramai penonton. Terlebih, pertunjukan Tari Dwipa Jaya-Tarian Kebesaran Provinsi Bali oleh penari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar membuat susana begitu semarak. Seolah tak mau kalah dengan sang penari, Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika pula memberikan sambutan dengan nada suara menggebu-gebu. Kentara ia berusaha mengajak krama bali turut larut dalam euforia PKB.


Dalam sambutan itu Mangku Pastika bercerita, “PKB adalah wahana untuk mempresentasikan hasil karya seni unggulan dan keagungan peradaban dengan ruang lingkup kegiatan yang berskala lokal, nasional,  dan Internasiaonal.” Secara filosofis menurut Mangku Pastika, “pelaksaaan PKB mengarah pada peningkatan kualiatas dan pembentukan karakter sumber daya manusia Bali”. Untung saja filosofi itu bukan sekedar cerita hambar. Sebab dalam pesta kali ini, sekitar 17.000 orang seniman terlibat dalam keberlangsungan pagelaran ini. Mereka turut ambil bagian dalam pawai, pagelaran, lomba, parade, pameran, hingga sarasehan pada 23 Juni hingga 21 Juli 2018 mendatang. Barangkali itu dapat menjadi bukti nyata keseriusan dalam membentuk karakter SDM Bali. 


Disisi lain, Muhajir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, temukan hal menarik dalam pagelaran PKB.  “Bali menyalip aturan tentang pendidikan kebudayaan yang belum lama ini disahkan,” ungkap Muhajir Effendy saat gantikan Jokowi memberikan sambutan dalam acara pembukaan PKB malam harinya di panggung terbuka Ardha Candra. Tidak hanya itu, Muhajir pula mengungkapkan rasa kagum khalayak akan tingkah laku krama Bali dalam melakoni kesenian. “Yang dikagumi dunia pada Bali bukan hanya karya seninya tapi juga proses berkesenian dalam kehidupan sehari-hari krama Bali,” ujar Muhajir Effendy, seperti ngayah di banjar-banjar, pura, ataupun desa pakraman. Dari hal sederhana itu-lahproses kreasi bermula yang  akhirnya melahirkan karya-karya seni khas Bali. “Perlu diingat, dalam proses penciptaan karya seni itu ada semangat, ada jiwa, ada api, ada taksu,” papar Muhajir. Sebab bagi Muahjir, pada dasarnya hanya mereka yang “berniat”yang mampu menyingkirkan hal yang dipikir mustahil (*).